Showing posts with label Other Articles in Indonesian. Show all posts
Showing posts with label Other Articles in Indonesian. Show all posts

Wednesday, February 13, 2008

SINOPSIS KISAH PLANET SMARTA BUKU 1 (Pembelaan Untuk Bumi)

Telah terbit dalam 2 bahasa, Indonesia (berupa buku cetak) & Inggris (berupa e-book)

Buku ini mengisahkan tentang kehidupan cerdas di luar tata surya, di sebuah planet bernama SMARTA. Revolusi teknologi di Smarta diawali dengan ditemukannya TEROPONG ESENSI, sebuah alat yang dihubungkan dengan monitor dan mampu melihat dengan jelas semua gerak dan warna dari setiap ESENSI yang dipancarkan oleh setiap materi. ESENSI MATERI yang di Bumi disebut AURA, diketahui oleh bangsa Smarta ternyata merupakan IDENTITAS dari setiap materi. Mereka mendokumentasikan arti PANCARAN ESENSI dari setiap unsur terkecil materi menggunakan BAHASA WARNA, sehingga satu warna yang merupakan campuran persentase dari warna dasar biru, merah, kuning dan hitam (“Cyan, Magenta, Yellow and Black”, seperti warna dasar dalam printer) mewakili satu nama Esensi dari satu jenis unsur terkecil materi lengkap dengan sifat yang dibawanya. Dengan demikian mereka telah mendokumentasikan jutaan arti pancaran esensi materi yang bisa dideteksi. Dokumentasi itu telah menjadi kamus tebal referensi ilmu pengetahuan baru di Planet Smarta. Dokumen itu masih bertambah terus dengan dokumen hasil penelitian lanjutan tentang reaksi-reaksi yang dapat terjadi antar unsur-unsur terkecil dari materi yang berlainan dan hasil yang diperoleh dari reaksi-reaksi itu. Penelitian itu berkembang jauh lebih komplek, lebih ruwet dan lebih detail dibandingkan dengan pengetahuan manusia Bumi tentang ilmu kimia dan fisika yang ada selama ini. Hasil yang mereka dapatkanpun jauh lebih menakjubkan dibandingkan dengan hasil pencapaian manusia Bumi dengan ilmu kimia dan fisikanya.
Penemuan lain yang mengejutkan adalah kenyataan bahwa di angkasa raya bebas ini tersedia berbagai jenis esensi materi namun umumnya berkerapatan rendah. Kerapatan esensi materi itu ternyata sebanding dengan kekuatan potensial yang terkandung di dalam materi tersebut. Jadi semakin tinggi tingkat kerapatan pancaran esensinya, maka semakin besar enersi potensial yang terkandung di dalam materi tersebut. Dalam penelitian berikutnya bangsa Smarta menemukan kenyataan lain yang juga sangat spektakuler, bahwa esensi materi dapat diserap oleh sebuah mediator (mediator ini juga jenis esensi materi tertentu) sehingga kerapatan esensi suatu jenis materi sebenarnya dapat diatur, dan itu berarti bahwa kekuatan potensial unsur terkecil maupun unsur gabungan dari suatu jenis materi sebenarnya dapat diatur pula, baik ditingkatkan atau dilenyapkan! Esensi dapat pula bereaksi sendiri dengan esensi yang lain dan dapat pula diubah menjadi esensi tertentu lainnya setelah dilewatkan melalui suatu mediator tertentu, sehingga penciptaan esensi tertentu atau baru adalah memungkinkan. Begitulah akhirnya mereka mampu menguasai berbagai teknik pengaturan berbagai pancaran esensi materi, baik secara sendiri-sendiri sebagai unsur terkecil yang berdiri sendiri, atau sebagai unsur yang sudah berupa gabungan dari beberapa macam unsur materi. Mereka juga menguasai banyak sekali reaksi-reaksi yang dapat terjadi diantara semua unsur tunggal maupun unsur gabungan dari berbagai jenis materi dan mendokumentasikan berbagai hasil yang diperoleh dari proses reaksi tersebut.
Penemuan-penemuan yang menakjubkan itu telah melahirkan revolusi teknologi yang sangat mencengangkan. Dalam dunia kesehatan mereka menemukan alat deteksi secara cepat dan akurat untuk menemukan sumber penyakit di dalam tubuh, karena semua esensi dalam tubuh melalui pancaran esensinya dapat bercerita sendiri tentang bagian mana dari elemen tubuh yang menjadi sumber penyakit. Deteksi esensi ini jauh lebih cepat dan akurat dibandingkan dengan uji klinis melalui laboratorium seperti yang ada di bumi saat ini. Melalui deteksi esensi tersebut dapat diketahui pula apa akibat dari kelainan pancaran esensi bagian tubuh yang sakit tersebut dan bagaimana cara mengobatinya, sehingga masyarakat Smarta adalah masyarakat yang amat sangat sehat. Ilmu tentang obat dan pengobatan berkembang dengan pesat dan akurat. Teknik-teknik pengobatan juga berkembang pesat, terutama teknik substitusi esensi untuk menetralisir atau meniadakan sama sekali esensi yang mengganggu kesehatan. Mereka akhirnya dapat memerangi berbagai jenis kanker dengan kepastian ilmiah yang sangat tinggi.
Produk yang dihasilkan oleh ilmu Fisika Esensi yang berkembang di Planet Smarta juga sangat canggih. Salah satunya adalah alat infus esensi ke tubuh. Jika di Bumi dikenal cairan infus untuk mengalirkan nutrisi yang dibutuhkan seseorang dalam keadaan sakit sehingga orang tersebut mendapat cukup masukan makanan dan nutrisi lainnya yang dibutuhkan oleh tubuh, maka infus esensi di Planet Smarta adalah proses mengirim makanan dan nutrisi-nutrisi lainnya ke dalam tubuh melalui pemancaran esensi tertentu dari sebuah alat pemancar esensi yang mereka ciptakan dan pancarannya diarahkan ke tubuh. Esensi yang dipancarkan ini akan diserap oleh esensi darah yang berfungsi sebagai mediatornya, sehingga dari proses penyerapan itu tubuh memperoleh nutrisi yang dibutuhkannya. Fungsinya sama persis dengan memberi makanan ke tubuh, bahkan makanan pilihan dengan ukuran secukupnya. Jadi penduduk Smarta bisa makan dengan cara itu atau makan dengan cara biasa. Umumnya infus esensi ini mereka pakai ketika sedang menjelajahi angkasa raya. Tentunya sangat repot membawa macam-macam makanan yang gampang rusak ketika sedang mengarungi jagad-raya. Infus esensi adalah alternatif yang sangat praktis dan berguna. Metode infus esensi ini juga berkembang menjadi sangat komplek dalam penciptaan makanan khusus sehari-hari, seperti misalnya: Anda butuh anggur tetapi yang ada hanya air putih? Jangan kawatir. Pancarkan saja esensi anggur dari alatnya ke arah air putih tersebut, dalam sekejap air putih akan berubah menjadi anggur! bukan sirup anggur, tetapi anggur murni, benar-benar anggur dengan kadar yang bisa anda atur semaunya! Anda bisa membuat “juice” apapun juga dengan modal bermacam-macam esensi yang telah tersedia di dispenser esensi anda! (Ma’af, mungkin anda teringat mujijat Jesus di kota Kana ketika Beliau mengubah air menjadi anggur? Itu adalah hal yang sangat mudah buat Beliau, karena pikiran yang terlatih memang bisa mendatangkan banyak keajaiban, termasuk menyerap esensi yang tersebar di alam dan memancarkannya kembali ke tujuan yang dikehendakinya, apalagi jika kemampuan yang ada itu datang dari Kuasa Allah! Di Planet Smarta, olah pikiran juga telah menjadi semacam olah raga yang menjamur, maka banyak pula orang super di sana.)
Sekarang bagi para ahli di Smarta bukanlah merupakan hal yang terlalu sulit untuk mendeteksi esensi planet-planet dalam galaksi dan menyimpulkan macam-macam persoalan yang tak terjawabkan sebelumnya: Di mana saja planet yang memiliki kehidupan di dalamnya?, Apa yang terkandung dalam sebuah bintang? Semua menjadi jelas dan pasti lewat teropong esensi raksasa yang mereka pasang di planetnya, di angkasa raya dan di planet-planet lain yang juga telah menjadi tempat-tempat tinggal mereka yang baru.
Di bagian Teknologi Mekanika Esensi yang mempelajari esensi gerak dan gaya, juga mengalami kemajuan yang sangat menakjubkan. Pertama yang mereka lihat adalah, bahwa esensi gaya itu hanyalah akibat yang mudah sekali lenyap. Begitu cepatnya dia lenyap tak berbekas, jauh lebih cepat dibandingkan dengan mengurainya esensi enersi panas di alam bebas, sehingga tidaklah mungkin memproduksi alat yang menyimpan esensi gaya yang siap pakai. Yang mungkin dilakukan adalah menciptakan alat yang menyimpan esensi potensi gaya dan kemudian menguraikannya menjadi gaya yang siap pakai melalui suatu mediator tertentu. Esensi potensi gaya itu banyak sekali sumbernya, seperti misalnya dari esensi gas yang dimampatkan, dari esensi daya rekat partikel yang diuraikan (seperti proses yang terjadi dalam ledakan bom atom), dsb. Tetapi yang paling menarik adalah esensi potensi gaya yang keluar dari pikiran mahluk yang dapat berpikir! Pikiran tersebut, apalagi yang terlatih, ternyata dapat memancarkan esensi potensi gaya sekaligus dapat menguraikannya menjadi gaya dan memanfaatkannya untuk suatu tujuan tertentu. Yang lebih hebat lagi adalah: bahwa beberapa proses kerja luar biasa yang terjadi di dalam otak tersebut dapat berlangsung bersamaan atau dalam jeda waktu yang sangat-sangat singkat maka terlihat bersamaan. Mungkin ini bisa diibaratkan dengan seseorang yang sedang bermain piano atau drum sambil bernyanyi. Dalam hal ini otak sekaligus mengatur koordinasi tangan kiri-kanan, kaki kiri–kanan dan mulut serta intonasi vokal yang semuanya bekerja secara berlainan tetapi toh menghasilkan irama bersama yang teratur. Ketika mereka mengadakan penelitian yang lebih jauh lagi, terkuaklah misteri yang sangat menakjubkan. Mereka menemukan kenyataan bahwa di alam ini sebenarnya tersedia esensi potensi gaya yang siap diubah secara langsung menjadi gaya kinetik (gaya gerak), tetapi keberadaannya selama ini tidak terkonsentrasi atau tersebar secara acak sehingga tidak menimbulkan efek bagi lingkungan sekitarnya. Mereka kemudian menamakan esensi penemuannya itu dengan nama GELOMBANG ULTRA KINETIK mengingat kemampuan esensi tersebut untuk dapat diurai secara langsung menjadi gaya kinetik (gaya gerak yang dapat menggerakkan benda-benda) setelah dilewatkan dalam suatu mediator tertentu. Lewat waktu yang panjang dan melelahkan, akhirnya mereka berhasil memproduksi alat untuk menguraikan gelombang ultra kinetik menjadi gaya kinetik yang terukur dan siap pakai, dan sejak itulah revolusi di berbagai bidang industri dan transportasi dimulai dengan gegap gempita! Secara sangat cepat dunia industri mereka berubah total. Tak perlu lagi bahan bakar minyak atau listrik untuk menggerakkan mesin-mesin industri, cukup sebuah teknologi pengurai esensi gelombang ultra kinetik yang menggantikannya; yang menjalankan mesin-mesin itu tanpa polusi karena tanpa bahan bakar! Dan revolusi juga terjadi dalam dunia transportasi mereka, ketika mereka menggabungkan teknologi pengurai esensi gelombang ultra kinetik itu dengan teknologi lain yang tak kalah mencengangkannya. Teknologi lain itu berkaitan dengan penemuan ESENSI NIRMASSA (nirmassa = tanpa massa) yang juga banyak tersebar di alam raya. Esensi nirmassa yang mengurung suatu benda dalam kerapatan tertentu ternyata dapat membuat benda tersebut kehilangan bobot(massa)nya secara drastis, bahkan bisa sampai mendekati nol yang artinya membuat benda tersebut hampir kehilangan total massanya. Jadi sebuah benda yang sebenarnya berat ketika dikurung oleh esensi nirmassa dengan kerapatan tertentu ternyata dengan gampang bisa digerakkan oleh sedikit gaya gerak yang dihasilkan dari alat pengurai esensi gelombang ultra kinetik. Prinsip inilah yang kemudian melahirkan kendaraan-kendaraan transportasi baru di jagad Planet Smarta. Tak diperlukan lagi banyak mobil seperti di Bumi, semua diganti dengan piring-piring terbang yang dapat melenggang dengan enaknya di langit Smarta tanpa suara dan tanpa polusi karena tanpa dengungan suara mesin dan tanpa bahan bakar! Dan pesawat luar angkasa mereka yang tercanggih tentu saja piring-piring terbang yang dapat melaju dengan kecepatan cahaya untuk mengarungi jagad raya!
Bagaimana kelanjutan dari semua kemajuan ini? Apa yang mereka lakukan setelah datang ke Bumi? Dan bagaimana akhirnya jika mereka terpaksa harus memperkenalkan diri kepada manusia Bumi karena suatu peristiwa yang tak terduga sebelumnya? Baca buku Kisah Planet Smarta ini, disamping anda akan terhibur dengan kisahnya, anda pasti menemukan banyak hal baru terselip di dalamnya, meski masih sebatas khayalan; sebuah khayalan yang mungkin sekali menjadi kenyataan di abad-abad mendatang! Biarpun buku ini menyangkut hal-hal yang sebenarnya sangat rumit (hanya di bab I buku pertama ini), tetapi penulisannya telah diusahakan dengan bahasa yang sederhana dan mudah untuk dimengerti.
Dan hal yang tak kalah menariknya adalah, bahwa serial Planet Smarta direncanakan untuk menjadi cerita fiksi yang kelanjutan serialnya dapat ditulis oleh siapa saja bekerja sama dengan penulis aslinya (atau kelak dengan staf penggantinya setelah penulisnya wafat) berdasarkan “rekaan ilmiah” yang terdapat di bab I buku pertama serial ini dan kriteria-kriteria lain yang akan ditentukan kemudian oleh penciptanya bersama dengan staf yang ditunjuknya. Serial buku ini direncanakan untuk terus hadir menemani perjalanan hidup dunia ini meraih kemuliaannya. Maka milikilah buku ini sejak dari awal dan simpanlah koleksinya dengan rapi, entah berupa buku cetak atau buku elektroniknya sehingga dapat anda kumpulkan secara berurutan dalam sebuah alat penyimpan file elektronik dan menjadi kado turun-temurun bagi generasi mendatang. Kisah Planet Smarta akan mulai “Go Public” pada saat serial ketiga diluncurkan, sehingga memberi waktu yang cukup untuk membenahi hal-hal yang dikemudian hari dirasakan mengandung kekurangan-kekurangan yang tak terpikirkan sebelumnya. Sebagai manusia biasa tentu banyak kekurangan-kekurangan yang bisa terjadi, tetapi tidak ada niat buruk sedikitpun dalam diri penciptanya ketika mengawali penulisan buku ini, bahkan sebaliknya, terbersit niat untuk ikut memberi arah positif bagi perkembangan kemajuan kita bersama secara fisik maupun spiritual di masa-masa mendatang. Jika ada plot cerita, dialog-dialog yang tidak sempurna, dan lain-lain lagi yang kurang berkenan, maka dengan segala kerendahan hati, pencipta dan seluruh staf yang terlibat di dalam penerbitan buku ini sebagai buku cetak dan buku elektronik, memohon ma’af sebelumnya. Satu hal yang sudah pasti: “kami mencintai anda semua dan seluruh jagad raya ini, khususnya Bumi, dan tentu saja di atas segalanya: Tuhan Yang Maha Kuasa!”.
Selamat membaca dan selamat datang di dunia “mimpi ilmiah” yang baru, menikmati hiburan yang sengaja diciptakan sambil memikirkan eksistensi kita sendiri. (SIS 1 2)

MENYIMAK UNGKAPAN DALAM KITAB SUCI, ANTARA SIMBOL DAN REALITA

Cobalah simak Yesaya 2. Di situ disebutkan “Zion” (Nama salah satu Bukit tempat kota Yerusalem berada) adalah “pusat kerajaan damai” karena dari sanalah lahir ajaran yang akan membawa dunia ini ke jalan perdamaian. Ajaran dari sana itu setidaknya dibawa oleh dua agama besar dunia saat ini, yaitu: Kristen dan Islam. Jadi secara “inheren” (melekat di dalamnya), realita yang terjadi adalah benar apa adanya. Asal kata “Yerusalem” sendiri diduga berasal dari kata “U-ru-sa-lim” yang terdapat dalam naskah “Tell-el-Amarna” (1400 SM) dan memiliki arti “Kota Salim” atau “Kota Damai” Tetapi ada kenyataan lain yang sangat bertolak belakang dengan yang pertama: Wilayah sekitar Yerusalem adalah wilayah yang paling banyak terlibat perang fisik dari jaman dahulu sampai sekarang!”. Dua kenyataan sekaligus yang bertolak belakang sama sekali. Apa artinya ini? Artinya adalah kita harus memisahkan secara jelas antara “apa yang diduduki oleh Allah” dan “apa yang diduduki oleh manusia”. “Zion” yang diduduki oleh Allah adalah “Zion” yang membawa damai, dan “Zion” yang diduduki oleh manusia adalah zion yang lainnya, yang entah kapan damainya.
Saudara seiman yang saya kasihi, membaca kitab suci seringkali menemukan banyak kalimat-kalimat (dalam hal ini saya sebut) “simbolik” yang tidak bisa diartikan lurus begitu saja. Dan karena manusia ini jumlahnya banyak, maka sangat tidak aneh kalau tafsiran yang muncul itu biasnya juga beraneka ragam, mulai dari yang bijak sampai yang “gombal”. Saudara kita, kaum Komunis, sampai kesal melihat tingkah polah orang-orang beragama yang lebih cenderung berbuat mistis daripada realistis: dalam keadaan miskin dan menderita bukannya berbuat sesuatu yang bisa mengangkat derajat hidupnya, ee…malahan berdo’a terus seharian! Lha..kapan mau memperbaiki keadaan? Alhasil keluarlah kemarahan mereka: “Agama adalah candu rakyat!, harus diganyang!, bikin orang teler dan tidak realistis!”. Jadi awalnya, apa yang dilihat orang komunis itu ada benarnya: Banyak orang beragama yang berlaku “gombal”. Tetapi dalam prakteknya ternyata kaum komunis kebablasan karena kelewat bersemangat main ganyang terus. Didukung oleh kekuasaan dan tentara, mereka membabat habis segala bentuk ibadat agama tanpa ampun. Karena semangat itu pula, mereka tidak sadar telah memperlakukan mahluk ciptaan Tuhan seperti “tanah liat” yang bisa mereka bentuk sesuka hatinya. Akhirnya waktulah yang menguji segalanya. “Apa yang datang dari Allah akan abadi” dan “Apa yang datang dari manusi akan musnah”. Itulah sejarah yang terus berulang dalam kehidupan manusia di dunia ini. Kadang untuk mendapatkan “mutiara” dalam kehidupan, manusia harus melalui pengorbanan yang luar biasa besarnya dengan harga yang benar-benar amat sangat mahal. Kesalahan demi kesalahan menguji semua itu. Oleh sebab itu, berbahagialah orang yang bisa mendapatkan “mutiara” itu dengan cara yang mudah dan damai, dan itu adalah orang-orang yang membaca kitab suci dengan segenap hati, pikiran, dan pengamatannya terhadap realita yang ada, sehingga roh kudus berkenan menunjukkan kebenaran yang terkandung di dalamnya
Ada contoh yang baik bagaimana beda penafsiran menimbulkan perbedaan tingkah laku pembacanya. Kita ambil salah satu paragraf yang sangat terkenal dalam kitab suci, yaitu dalam do’a yang diajarkan Yesus sendiri: “Jadilah kehendakMu, ya Bapa, Di atas Bumi seperti di dalam Surga”. Paragraf ini kita simak bersama dengan paragraf: “Pada akhir jaman Tuhan akan datang dengan segala kemegahanNya dengan berselimutkan awan, dst…..”. Menafsirkan dua paragraf ini saja, umat Kristen langsung akan terbagi dalam dua kelompok besar:
Kelompok pertama adalah kelompok mistikus, yaitu kelompok yang tiap hari mengucapkan do’a itu sambil “merem-merem serius” tapi tak pernah berbuat apa-apa untuk ikut mewujudkan terciptanya kondisi Bumi agar kelak seperti di dalam Surga. Dalam hatinya yang ada adalah: “Kan Tuhan bisa bim-salabim, maka sekejap juga Bumi jadi Surga! Buat apa repot-repot ikut mikirin, percaya saja, beres, gampang, kan?, gitu aja kok repot! Apalagi sudah jelas dikatakan bahwa Tuhan akan datang berselimutkan awan!, memisahkan yang benar dan yang tak benar. Jadi buat apa ikut campur? Gimana maunya Tuhan ajalah.”
Kelompok kedua adalah kelompok realistis-religius. Kelompok ini sadar bahwa usia Bumi ini sudah jutaan tahun dan selama waktu itu ternyata tingkat kemuliaan manusia baru mencapai titik seperti sekarang ini. Dibutuhkan waktu yang masih amat sangat panjang untuk menciptakan kondisi “Bumi seperti di dalam Surga”. Seberapa panjang waktu itu sebenarnya sangat tergantung dari peran manusia sendiri untuk ikut campur di dalamnya. Jadi kalau ada orang yang ngomong bahwa sebentar lagi dunia mau kiamat hanya gara-gara banyak bencana, itu adalah omongan yang paling ngawur dan tak ada konteksnya sama sekali dilihat dari susahnya evolusi Bumi ini menuju ke arah kemuliaan yang diinginkan Tuhan. Itu omongan khas Nabi Palsu. Tuhan ingin membuat Bumi ini seperti di dalam Surga adalah untuk manusia, bukan untuk diriNya sendiri. Dan amat sangat mustahil bahwa Surga itu isinya orang-orang yang mau terima beres dan enak sendiri tanpa berbuat apa-apa. Juga amat-sangat mustahil bahwa Tuhan akan menghancurkan Bumi dengan sekali tendang ketika bumi tengah berjuang menuju kemuliannya yang telah dijalaninya dengan terseok-seok selama jutaan tahun, bahkan telah dikirimNya PutraNya sendiri ke Bumi untuk mempercepat proses itu. Oleh sebab itulah kelompok ini sangat menyadari: “Jangan cuma komat-kamit meluncurkan do’a itu setiap hari, tetapi mari kita perjuangkan semua itu bersama Tuhan!”
Saudara, anda termasuk kelompok yang mana? Lupakanlah masa lalu kalau anda merasa ada di kelompok yang pertama, dan mari hidup dalam kelompok yang kedua. Mengapa begitu? Karena iman kita jelas: “Jesus itu ya Allah ya Manusia, bukan cuma Allah tok yang bisa berbuat bim-salabim dan menyenangkan semua pengikut “Harry Potter” (Itu tokoh fiksi dalam dunia sihir-menyihir). Tuhan itu Maha Mulia, ya, saya tahu. Dan Dia juga menginginkan kita manusia jadi mulia, sampai-sampai Dia mau menjelma menjadi manusia untuk mengurus kita, menemui kita yang serba belepotan ini secara langsung, untuk menegakkan kita dalam dunia yang masih jauh dari sempurna ini. Percayalah, kita tidak mungkin mencapai kesempurnaan itu dalam sekejap, bahkan butuh kerja keras dengan mengerahkan seluruh kemampuan terbaik yang sudah diberikan pada kita: akal budi, fisik yang sehat, keluarga yang damai, dan semoga penyelenggara Negara yang semakin baik, serta masih banyak lagi. “Dunia seperti dalam Surga” tidak akan pernah tercapai ketika kelompok mistikus jumlahnya selalu jauh lebih besar daripada kelompok realistis-religius, apalagi kalau ditambah dengan kelompok anarkis, teroris, imperialis, dan lain-lain yang sangat melecehkan kemuliaan manusiawi itu sendiri. Mari kita semakin “membumi” dan jangan “ngawang” terus. Sekecil apapun yang bisa kita sumbangkan untuk kemuliaan, akan kita kerjakan dengan semangat pelayanan yang tinggi.

SIS 1 2,
http://sis12.blogspot.com

Tuesday, February 12, 2008

ADAKAH UJUNG JALAN KEHIDUPAN?

Dua orang Katolik berdebat seru di sebelah saya. Pokok masalahnya adalah Reinkarnasi! Yang satu (+) bersikukuh bahwa reinkarnasi itu memang ada. Bukti yang disodorkannya tak tanggung-tanggung : Jesus sendiri menitis jadi manusia, maka itu ya namanya inkarnasi, titik! Yang satu lagi (-) bilang, bahwa peristiwa itu terjadi karena Dia Tuhan sendiri yang bisa menjelma menjadi apa saja. Ajaran agama kita tegas-tegas bilang, bahwa setelah mati ya hanya ada Surga atau Neraka, titik! Perdebatan makin ramai lagi:
(+) :“Lho, masak orang demikian banyaknya cuma dikasih 2 tempat: Neraka atau Surga? Terus kalau orangnya setengah-setengah mau ditaruh mana?”
(-) :“Ya masuk tempat penantianlah.”
(+) :“Lha itu artinya ada 3 tempat, bukan 2! Terus tempat penantian itu bagaimana wujudnya?”
(-) :“Ya semacam penantian sambil belajar, seperti dunia kita ini, tapi tanpa badan kasar.”
(+) :“Lhah, teori dari mana itu?, kok saya yang sama-sama Katolik tak pernah diajar begitu! Sampeyan (anda) ngarang barangkali! Lha apa salahnya juga kalau sebagian yang sedang dalam penantian itu dikirim balik lagi ke dunia dengan badan yang baru, yang lebih sesuai dengan tabiatnya sewaktu masih hidup di dunia: Para koruptor yang masih bisa diampuni dijadiin tikus; orang rada serakah jadi babi; yang rada baikan tapi pernah kepleset dan jatuh dalam dosa dijadikan orang lagi sambil naik pangkat dan rejekinya serta diberi tempat yang lebih memungkinkan dia untuk belajar lagi dengan baik?”
(-) : “Wah..,wah.., itu lebih ngaco lagi!, bertentangan total dengan Eksistensi Tuhan yang Kasih adanya: masak orang dijadiin tikus, babi, kadal, dan segala macam binatang? Mereka ya di dunia penantian itu saja, ga usah kemana-mana, belajar terus sampai lulus, mengalami suka duka juga.”
(+) : “Wah.., sampeyan benar-benar mencurigakan, jangan-jangan anda memang pernah tinggal di tempat penantian itu dan sekarang mengalami reinkarnasi sehingga mengerti sekali urusan dunia sana, dan saya jadi semakin yakin kalau reinkarnasi itu memang ada.”
(-) : “Pusing ah, pokoknya yang namanya reinkarnasi itu ga ada, titik.”
Perdebatan buntu. Tiba-tiba yang setuju dengan reinkarnasi menoleh ke saya sambil bertanya:
(+) : “Kalau anda bagaimana, Mas?” Karena ditanya, maka saya jawab.
Saya: “Saya ini orangnya “enjoy aja”. Artinya begini: Kalau seseorang itu merasa dirinya dahulu kala adalah seekor monyet seperti yang ada dalam teori evolusi (Darwinisme); kemudian dia saat ini bersyukur sekali sudah bisa “chatting” dan “surfing” via internet dengan lap-top canggih di café-café; dan dengan kesadaran penuh sekarang dia berusaha mati-matian berbuat segala hal yang baik agar kelak setelah mati bisa diangkat menjadi Dewa, maka itu artinya faham reinkarnasi baik adanya buat orang itu.”
(+) : “Nah, itu artinya Mas setuju dengan reinkarnasi.”
Saya: “Bukan begitu maksud saya.”
(+) : “Lho, Mas ini kok malah plintat-plintut, sih?”
Saya: “Nggak juga. Saya hanya tidak ingin jadi orang yang “sok tahu”, karena memang saya ini tidak tahu dulunya saya ini siapa? Juga sebenarnya saya ini tidak tahu: dibalik kematian itu dunianya macam apa? Saya percaya pada satu hal yang saya yakini benar, bahwa Tuhan itu sangat ingin kita semua dapat maju terus-menerus secara rohaniah agar suatu saat bisa mencapai KerajaanNya. Untuk itu Dia memberikan bermacam-macam materi pendidikan buat kita. Faham reinkarnasi itu hanya salah satu dari materi pendidikan yang ada. Yang lain jumlahnya tak terhitung dan setiap orang mengalami pendidikan yang tidak pernah sama persis setiap detiknya. Bagi saya, tidak perlulah kita memperdebatkan materi-materi pendidikan itu. Ada kalanya orang tua kita terpaksa mengatakan sesuatu secara gampangan pada anaknya yang belum bisa diberi penjelasan panjang-lebar, agar dia tidak melakukan ini dan itu, dengan tujuan untuk menghindarkan anak itu dari celaka. Tapi cara apapun yang diberikan orang tua kepada anaknya pastilah dengan tujuan yang baik. Demikian pula Tuhan terhadap kita. Yang diharapkan Tuhan adalah pengertian kita yang terus-menerus tumbuh akan niat baikNya dan mengharapkan kesungguhan kita untuk menanggapiNya.”
Ajaib! Kedua orang di sebelah saya jadi diam cukup lama. Saya jadi merasa bersalah telah kebablasan mengeluarkan kata-kata “sok tahu”, mungkin keduanya tidak menyukai kata-kata itu.
Saya: “Mohon ma’af kalau ada kata-kata saya yang kurang berkenan.”
(+) : “Oh.., tak apa-apa; saya hanya masih bingung kalau merenungkan semua ini: Surga, Neraka, ditambah tadi ada Tempat Penantian dan kenyataan sekarang saya tinggal di Dunia seperti ini. Sampai kapankah semua ini akan sampai ke ujungnya?”
Saya: “Hah..?, ujungnya?”
(-) : “Ujungnya ya Surga dan Neraka itu!”
(+) : “Saya tak menyukai konsep Surga dan Neraka. Kan kamu sendiri yang ngomong kalau Tuhan itu Maha Pengasih. Masak Yang Maha Pengasih menciptakan tempat hukuman sekejam itu, sedangkan saya yang bukan Maha Pengasih saja tidak mau disuruh nyiksa orang sampai seperti itu! Katanya ga bakalan balas dendam, lha Neraka seperti itu artinya apa kalau bukan balas dendam?! Hari gini kok pake ancam-ancaman, kuno ah…! Lebih mending saya percaya faham Reinkarnasi daripada percaya cerita tentang Neraka!”
(-) : “Hush..!, kuwalat kamu nanti! Bisa-bisa digolongkan aliran sesat yang lagi ramai diperbincangkan!”
(+) :“Kan saya cuma ngomong apa adanya. Banyak orang ngomong lebih gila di luar sana! Pikir saja pakai nalar, apa yang salah dengan omongan saya?”
Saya: “Oklah kamu ga mau Neraka; kalau Surga mau? Dia diam sebentar sebelum menjawab.
(+) : “Rasanya tidak jujur kalau saya bilang tidak mau Surga. Saya mau.”
Saya: “Alhamdulillah! Tadinya saya sudah kawatir bahwa anda punya nalar hebat tapi tak punya hati, syukurlah tidak demikian. Sekarang saya mau tanya lagi: Apakah menurut anggapanmu Surga itu ujung jalan yang kamu cari?” Dia benar-benar bingung sekarang.
(+) : “Saya tak tahu; saya hanya merasa membutuhkan sebuah tempat pemberhentian yang penuh kedamaian.”
Saya: “Dan andaikata suatu saat kau temukan tempat itu, apakah kau akan tinggal untuk seterusnya disitu dan tidak pergi kemana-mana lagi?” Dia diam saja, mungkin membayangkan tempat yang diimpikannya sambil memikirkan pertanyaan saya.
Saya: “Baiklah saya bantu dengan pengalaman saya. Suatu hari, jauh dari negara ini, saya berada di suatu tempat yang luar biasa indahnya bersama seorang anak saya. Sebuah hamparan pantai yang sangat indah, dikelilingi gunung-gunung yang juga indah; bahkan batu-batu besar di tepi pantai yang saya dudukipun luar biasa indahnya karena abrasi yang telah berlangsung ratusan tahun, jauh lebih indah dari deretan suiseki(seni batu)nya orang Jepang. Pohon-pohon raksasa di sekitar saya yang berumur ratusan tahun, juga jauh lebih indah dari bonsai(seni pohon kerdil)nya orang Jepang. Karya semua seniman tak akan bisa mengalahkan keindahan ini, semuanya kalah wibawa. Semua itu masih ditambah berbagai jenis burung berbulu warna-warni datang menghampiri kami, dan sungguh kami menyesal tidak membawa makanan untuk burung-burung itu karena tidak tahu akan seperti ini, sehingga kue-kue yang kami bawa kami remukkan dan kami berikan ke burung-burung itu yang semakin banyak datang menghampiri kami, turun dari atas-atas pohon. Semua kue kami habis, dan kami tertawa gembira! Cuaca demikian baiknya, matahari terasa tak menyengat dan suhu udara sekitar 17 derajat Celcius, cukup dingin. Yang lebih luar biasa lagi, bahwa tempat seindah dan seluas itu hanya kami berdua saja yang menikmatinya, sama sekali tak ada orang lain. Tempat itu dan suasananya sangat mewakili gambaran banyak orang tentang Surga. ‘Terima Kasih, Tuhan.., Kau hantarkan kami ke tempat ini. Sepertinya Kau sengaja melayani kami yang tak pernah punya rencana kemari.’ Dan kebahagiaan saya semakin bertambah setelah mengucapkan kata-kata itu dalam hati, menyadari bahwa Tuhan sangat mencintai kami. Tetapi setelah dua jam menikmati semuanya, saya begitu rindu kepada keluarga yang lain yang kebetulan tidak bersama kami; saya juga rindu semua teman-teman saya dimana kami biasa berkumpul ramai-ramai. Perlahan-lahan Surga itu menjadi hampa tanpa kehadiran semua orang-orang yang kita cintai, dan terbersit perasaan di hati saya, alangkah berbahagianya jika saya bisa mencintai sebanyak-banyaknya orang dan merindukan mereka semuanya bisa bersama saya berada di samping Tuhan.” Saya menyudahi cerita saya yang memang sungguh-sungguh terjadi.
(+) : “Saya terinspirasi oleh gambaran pengalaman anda, dan sayapun merasa pasti sekarang, bahwa saya tidak mungkin juga akan tinggal diam sendirian selamanya di tempat yang saya dambakan itu. Saya akan kesepian.”
Saya: “Ya, kenyataannya akan jadi seperti itu bila anda mencari ujung jalan. Jangan pernah berpikir lagi mencari ujung jalan, karena ketika sampai di sana, anda hanya menemui kematian yang sesungguhnya karena semuanya berhenti hanya sampai disitu: buntu, tak ada yang harus anda jalani lagi. Surga adalah sesuatu yang hidup, bukan tempat mati seperti gambaran banyak orang. Dan Neraka itu sendiri memang tidak berada di luar sana, tetapi menyatu dalam hatimu, ia menyatu dalam dosa-dosamu! Sebenarnya semua orang sudah pernah mampir ke sana.”
(-) : “Wah.., gawat, benar-benar gawat, kalian benar-benar bisa dicap berpikiran sesat!, ini sudah banyak menyimpang!”
(+) : “Teruskanlah, aku ingin mendengar analisamu.”
Saya: “Kalau anda baca kitab Apokrif (kitab di luar kitab suci Kanonik yang jadi pegangan gereja Katolik sekarang), anda akan lebih merinding lagi gambaran tentang Neraka itu, jauh lebih serem dari film horor! Tapi biarpun tidak usah melihat sendiri, saya berani jamin bahwa semua itu cuma illusi penulisnya! Gereja resmipun akhirnya menyingkirkan tulisan-tulisan semacam itu. Dan suatu saat ketika umat beragama ini lebih dewasa pengertiannya, maka gambaran Surga dan Neraka seperti yang selama ini ada akan mengalami pergeseran juga. Bukan berarti yang lalu salah, tetapi saya mengatakan di depan tadi, bahwa ‘orang tua suka memberi gambaran yang gampang-gampang kepada anaknya agar tidak melakukan ini dan itu agar anaknya yang belum mengerti apa-apa itu jangan sampai celaka’, tetapi ketika anaknya itu sudah dewasa, maka gambaran semacam itu tidak dibutuhkan lagi. Jadi baiklah saya teruskan lagi tentang Neraka yang sebenarnya sudah pernah dialami oleh semua orang itu. Ketika kamu melakukan perbuatan dosa cukup besar kepada seseorang, apalagi seseorang yang kamu cintai, maka yang ada dalam hatimu pastilah penyesalan yang luar biasa juga. Penyesalan itu membuatmu menderita, apalagi kalau bertumpuk-tumpuk. Tetapi seringkali keangkuhan seseorang berhasil menyembunyikan semua penyesalannya dan lama-lama tidak merasa menyesal lagi ketika melakukan perbuatan dosa karena bisa disembunyikan, maka dengan gampang saja perbuatan itu diulang terus. Tetapi ketika tubuh sudah sakit-sakitan, maka bayangan penyesalan itu pasti muncul lagi. Dan ketika tubuh sudah benar-benar lenyap dalam kematian raga, tinggal jiwa yang telanjang, maka gambaran penyesalan itu sudah tak memiliki tempat lagi untuk bersembunyi, sehingga hal itu menimbulkan penderitaan. Itulah Neraka!, dan itu sesungguhnya adalah asli perbuatanmu sendiri, bukan pembalasan dari Tuhan. Apa yang terjadi selanjutnya saya tak tahu karena belum pernah mati! Mungkin yang paling akan kamu sesali adalah ketika kamu melihat sendiri dirimu yang telanjang dan mendapati kenyataan yang lain sama sekali dari gambaranmu sendiri tentang dirimu sendiri, bahwa ternyata betapa seringnya kamu menyakiti Tuhan yang begitu mencintaimu, apalagi ketika kamu tahu bahwa hal itu telah kamu lakukan secara sadar dan sekarang kamu tak bisa bersembunyi lagi. Jadi kalau boleh saya sarankan, marilah kita sama-sama belajar hidup “telanjang”, berusaha jangan menyembunyikan dosa dari mata kita sendiri dan mohon ampunanNya dengan sungguh-sungguh. Kita akan jadi seperti “anak kecil” yang digendong Yesus itu. Jadi kalau kelak kita mati, kita sudah terbiasa melihat diri kita apa-adanya sehingga tidak terkejut lagi dan menyesali masa lalu kita. Sungguh, tak ada manusia yang sempurna, tetapi alangkah berbahagianya orang yang bisa melihat sendiri ketidak-sempurnaannya lewat matanya sendiri dan berusaha memperbaikinya semaksimal mungkin, karena Tuhan sungguh-sungguh akan tersenyum kepadanya dan tidak akan pernah mempersoalkannya. Ma’afkan kalau saya seperti berkhotbah, sesungguhnya saya hanya ingin mengatakan kenyataan hidup dan berbagi bersama anda tanpa pernah punya niat mau mengajari siapapun karena saya sendiri juga sedang belajar.”
(+) : “Menarik. Terima kasih untuk itu, setidaknya itu lebih masuk akal dan hati saya. Jadi Surgapun bukan tempat pemberhentian terakhir?”
Saya: “Tak ada kata TERAKHIR. Terakhir berarti TAMAT! Bahkan alam semestapun tak ada ujungnya! Maka teruslah maju! Jangan pernah takut, karena pembimbingmu adalah Tuhan Yang Maha Besar, yang selalu menyertaimu sejak semula kamu diciptakan!”
(+) : “Satu lagi, bagaimana dengan penegasan Tuhan bahwa Dia adalah “Alfa dan Omega”, Yang Awal dan Yang Akhir?”
Saya: “Itu artinya adalah, bahwa Tuhan adalah yang mengawali segalaNya dan merupakan batasan paling tinggi dari semua ciptaanNya. Tak akan ada yang mampu melampauiNya. Tetapi Tuhan sendiri tidak akan pernah berakhir pada satu titik, karena kalau Tuhan berakhir, maka semua karyaNya dan seluruh ciptaanNya lambat laun akan berakhir juga; hal itu tak akan pernah terjadi.”
(+) : “Thanks. Saya sekarang jadi bersemangat menjalani hidup ini saat demi saat! Jadi sekarang kita ‘enjoy aja’ ya?” Saya tertawa. Dia menyalami saya dengan gembira dan saya sambut dengan gembira juga.
(-) : ‘??????” (pikiran sesat????)
-SIS 1 2-

SIAPAKAH MURID YESUS ITU?

Seorang saudara pernah mengutarakan pertanyaan pada saya: Yesus mengatakan bahwa: “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup; Tak ada seorangpun akan sampai kepada Bapa kecuali melalui Aku”. Lalu bagaimana dengan orang-orang di luar Kristen (Kristen = semua agama yang mengakui Yesus sebagai Gembalanya) yang tak pernah mengenal Yesus? Apakah mereka semua tak akan ada yang sampai ke KerajaanNya? Sebuah pertanyaan yang tak pernah saya duga. Untuk sejenak saya diam, agak terkejut dan tak pernah mengira akan ada pertanyaan seperti itu. Terasa agak berlebihan atau entah apa lagi namanya. Saya jadi malah menerawang, kira-kira seperti apa pola pikir saudara saya ini sehingga sampai pada kesimpulan seperti itu? Akhirnya saya bisa menyimpulkan pokok persoalannya dan mulai memberi jawaban.
Sayapun balik bertanya kepada dia:
“Pernahkah ada satu ayat di dalam kitab suci Kristen yang menyebutkan bahwa Yesus itu pemimpin agama Kristen?” Ganti dia yang berpikir sebentar, mungkin mencari ayat itu, mungkin juga menduga-duga kemana arahnya pertanyaan saya. Sebentar kemudian dia menggelengkan kepala, tanda tak menemukan ayat itu, tapi sambil menambahkan: “Kan sudah jelas Yesus itu pemimpin umat Kristiani.” saya menimpali: “Siapa yang mengangkat dia jadi pimpinan umat Kristiani? Kamu-kamu ini atau Dia sendiri yang minta?” Kembali dia agak terperangah, namun menjawab juga:
“Ya para pengikutNyalah yang menobatkan seperti itu.”
“Jadi bukan Dia sendiri yang minta, kan?”
“Tapi Dia yang minta untuk menyebarkan semua ajaranNya lewat murid-muridNya.”
“Ya, minta seperti itu, tapi tidak minta jadi pemimpin agama tertentu.”
“Terus, apa kaitan argumenmu dengan pertanyaanku?”
Tanyanya mulai kesal.
“Sangat mendasar dan jelas. Kita harus menempatkankan dengan bijak antara figur Yesus yang Kasih adaNya sebagai Guru bagi semua orang tanpa kecuali yang berjalan di Jalan Kasih, sehingga dalam hal ini Beliau adalah Guru yang sangat universal. Dan di sisi lain adalah figur Yesus yang diklaim oleh para pengikutnya sebagai Gembala umat Kristiani. Bagi saya, Mahatma Gandhi dengan Ahimsanya itu jelas murid Yesus yang sangat baik karena mempraktekkan dengan sungguh-sungguh ajaran Kasih yang diutamakanNya; juga Kartini, dll-dll yang bukan Kristen tapi jelas menjalankan ajaran Kasih. Bahkan kalau mau rendah hati sedikit, banyak orang Kristen sendiri yang belum tentu diaku Yesus sebagai muridNya karena semua tindak-tanduknya sama sekali bertolak belakang dengan ajaran Kasih. Manakah yang lebih utama buat Yesus: Orangnya atau bajunya?”
“Ya orangnya, sih, tapi……”
Dia tak meneruskan.
“Tapi kenapa? Kamu kecewa rupanya bahwa orang Kristen belum tentu otomatis pegang tiket VIP ke Kerajaan Yesus?” Dia diam saja, hatinya bimbang, mungkin mau protes tapi sulit keluar. Akhirnya ia bicara lagi.
“Kalau begitu, apa artinya agama? Apa artinya semua kebanggaan kita akan Yesus dan Gereja selama ini?” Keluar juga unek-uneknya.
“Agama adalah wadah, tapi bukan Tuhan itu sendiri. Menuhankan agama sama artinya dengan mengecilkan Tuhan; sama artinya kamu berusaha mengerangkeng Tuhan dalam wadah yang kamu buat sendiri, entah itu namanya Agama, Gereja, atau apapun juga. Tetapi wadah itu sendiri masih sangat diperlukan dalam dunia ini. Seperti kamu lihat ada banyak perbedaan budaya dan tingkah laku di dalam masyarakat. Sekelompok orang tertentu merasa lebih “enjoy” berada di lingkungan tertentu. Semua itu perlu ditampung dalam wadah-wadah tertentu sehingga semua merasa mendapatkan tempat yang pas untuk semua aktifitasnya, termasuk cara dia memuliakan nama Tuhan. Memang dalam tingkatan tertentu seseorang merasa tidak memerlukan wadah-wadah itu. Sebenarnya tidak ada masalah juga. Inti utamanya tetap tingkah-laku kita sendiri. Kebetulan kita sama-sama merasa cocok dalam wadah Gereja Katolik. Ma’af, apakah anda tahu artinya Katolik?” Dia tampak kaget dan agak malu-malu menggelengkan kepala. Saya meneruskan.
“Katolik itu artinya UMUM. Itulah seharusnya kebanggaan utama kita bersama, bahwa biarpun kita hanya dalam satu wadah, tetapi ternyata wadah itu mengandung makna yang sangat universal dan luas. Di dalamnya terkandung makna yang intinya adalah bahwa seharusnya kita tidak harus menyendiri dan memisahkan diri dengan kelompok lainnya, apalagi merasa menjadi yang paling istimewa diantara semuanya. Yesus mengajarkan kita untuk menjadi garam dunia. Bagaimana mungkin semua itu bisa kita kerjakan dengan baik jika belum apa-apa kita sudah mengurung diri dalam eksklusivisme kelompok? Dan juga jangan lupakan ketika Yesus menengahi muridnya yang meributkan siapa diantara mereka sebenarnya yang paling besar? Maka jawabNya adalah: “Yang merasa terkecil, itulah yang sesungguhnya terbesar di dalam kerajaan Surga”. Sekali ini dia tampak lega dan bisa menerima, mudah-mudahan anda juga. ***AMIN*** http://sis12.blogspot.com